087827505995 (Awan) / 085731640924 (Wikrama) himamatematika.uny@gmail.com

Hari Ini Aku Ormed

Oleh: Duwie Kresno Wibowo

Aku lupa itu hari keberapa, hanya saja itu awal-awal kegiatan saat diksar (pendidikan dasar). Peluit pagi tanda berkumpul dibunyikan, tanda setiap siswa harus segera bersiap dan baris berkumpul. Postur badanku lumayan tinggi bila dibandingkan dengan rekanku yang lain, tentu saja aku baris di barisan depan. Setelah pelatih datang Danton (Komandan Peleton) mengistirahatkan barisan. Saatnya mendengar arahan dari pelatih, entah apa maksudnya, ya kudengarkan saja.

Inti yang disampaikan adalah kami akan mengenal medan sekitar, atau istilah kerennya Ormed (Orientasi Medan). Tujuan dari ormed tentu untuk mengenal medan, tapi disamping itu juga mengenalkan kami dengan lingkungan sekitar, makna yang ku maksud adalah secara keramahtamahan lingkungan, dan keasrian wilayah di sekitar Rindam.

Saatnya berangkat, kami keluar dari rindam kemudian masuk ke sungai. Kebetulan tepat di samping rindam ada sungai yang lumayan besar. Karena saat itu musim penghujan, jadi aliran air sungai cukup deras, jangan bayangkan air jernih, tentu airnya coklat bercampur lumpur. Meski dingin, tapi aku merasa senang. Bukan karena basah dan dingin segar, namun bisa melihat tawa dan semangat teman-temanku yang begitu polos, bak anak kecil yang bermain air. Kami diarahkan untuk berjalan menyusuri sungai, tapi karena saat itu air naik, jadi aku jongkok sambil memegang pundak teman depanku, aku mengambang terbawa arus, aku tertawa dalam hati sambil berteriak pada temanku “Asik ya!”, tawa dan lantunan lagu gembira kami nyanyikan.

Setelah mengarungi sungai beberapa ratus meter, kami naik kembali ke jalan. Tentu dengan badan basah dan sepatu pdl penuh air. Jangan tanyakan kaos kakiku, akan tetap basah sampai cerita ini berakhir. Kami berjalan dengan barisan dua banjar, barisan yang umum dilakukan saat berjalan di jalan raya. Saat berjalan rasanya ada yang mengganjal di sepatu, ah kurasa pasir sungai masuk ke dalam sepatuku. Ku abaikan rasa mengganjal itu, dan kulanjukan perjalanan. Aku yakin temanku yang lain mengalami hal yang serupa, ah tentu mereka lebih parah pikirku, lagipula ada perempuan, aku harus terlihat lebih kuat dari mereka, hehe.

Sambil menyusuri jalan, sesekali aku mengobrol dengan teman sampingku, selain untuk menambah relasi dan kedekatan, juga agar perjalanan ini tak terlalu terasa melelahkan. Jangan menganggap aku modus, karena teman sampingku laki-laki dan aku lelaki normal, hehe. Beberapa pertanyaan normal kulontarkan, “Dari satuan mana? Berapa anggota yang berangkat diksar? Asal mana?”, dan pertanyaan lain yang semisal. Sudah serasa SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) saja. Dari wawancara singkat tersebut dapat kuambil beberapa kesimpulan, bahwasanya jumlah anggota mereka lebih sedikit bila dibandingkan dengan kami yang mengirimkan 18 orang untuk menikuti diksar. Aku bersyukur karena apa yang ku alami tak seberat apa yang telah ia lalui dan rasakan, pelajaran yang dapat ku ambil adalah “Seberat-berat yang ku rasakan ada yang mengalami lebih berat dariku, sesakit-sakitnya diriku, ada yang lebih sakit, dst.”, lengkapi sendiri ya, hehe. Yang jelas, ini bukanlah akhir perjalanan, ini hanyalah awal.