085927484535 mail@himatikauny.org

Keluarga Kopi

Oleh: Arif Dadu

Namaku Pawiro, aku terlahir dari keluarga pecinta kopi, maka aku gemar banget minum kopi.  Aku selalu ingat apa yang dikatakan kakekku  Singatruna waktu aku masih berusia lima tahun. Kakek tua berambut putih, kurus dengan dua giginya yang sudah goyah itu berkata, “Le! Sejak dulu nenek moyang kita pecinta kopi, kamu harus bisa melanjutkan tradisi turun-temurun ini. Orang minum kopi mati, tidak minum kopi juga mati, lebih baik minum kopi sampai mati. My coffee, my adventure”.

Gila kakekku keren banget pinter bahasa Inggris. Meskipun setelah ia menenggak kopi hitamnya itu hingga ke ampas-ampasnya kakekku tersedak dan sampai ajalnya. Seketika itu aku lihat cangkir kopinya itu ternyata satu gigi kakekku lepas, lalu aku lihat mulutnya gigi yang satunya tidak ada. Aku semakin yakin kalau kakekku mati bukan karena kopi tapi karena tersedak giginya sendiri.

Suatu hari ayahku yang baru pulang dari kebun memintaku membuatkannya secangkir kopi setelah aku cari-cari ternyata persediaan kopi di rumah sudah habis. Untungnya di dapur aku melihat panci hitam yang penuh dengan jelaga. Tanpa pikir panjang aku langsung mengerok jelaga itu dan aku masukkan ke dalam cangkir kemudian ku tambah gula, dan diseduh dengan air panas dalam termos. Persis seperti kopi hitam warnanya pun tak jauh berbeda.

Setelah itu aku suguhkan kepada ayah. Ayah yang nampak kelelahan dari kebun langsung meminumnya.

“Makasih ya Le.” Kata ayahku senang. Ayah segera menyeruput kopi jelaga yang masih hangat.

Brrrooot…. Mukaku disembur oleh ayah, dan menjadi hitam seperti bokong panci yang tadi aku kerok.

Ayah marah besar dan memaki-maki ku. Aku segera lari tunggang langgang menghindari murka ayahku. Padahal kopi yang ku buat sama-sama hitam tapi kok rasanya beda. Setelah itu aku tau kalau kopi itu sangat istimewa, tidak bisa disamakan dengan yang lainnya.

Sekarang aku sudah bekerja jadi pemadam kebakaran. Suatu hari ruko  depan posku kebakaran, pas banget kopi hitamku baru saja aku seduh. Pemilik tokonya teriak-teriak di depanku.

“Pak! Pak! Tolongin ruko saya kebakaran. Cepat Pak! Cepat!”

“Sabar Pak! Kopi saya baru jadi, kalau enggak segera diminum mubadzir, soalnya kalau sudah dingin sudah enggak enak lagi. Saya habisin dulu ya Pak.”

Aku segera menikmati kopiku yang masih hangat, enak banget sampai-sampai bibirku enggak mau copot dari gelas sebelum kopiku habis. Orang penjaga ruko itu sampai guling-guling di sampingku seking paniknya.

“Oke Pak! Sekarang ayo kita atasi kebakarannya.” Kataku sok jadi pahlawan.

Penjaga toko itu diam dan tidak menjawab satu kata pun. Dia kemudian memukul perutku dan meninggalkanku yang tergeletak kesakitan di lantai sambil memegangi perutku. Setelah aku melirik ke ruko dekat posku ternyata sudah porak poranda di makan si jago merah.

Setelah kejadian itu aku dipecat. Tapi aku tetap ingat apa yang dikatakan kakek. I love you kakek.

Orang lain yang perlu dikenang kecintaannya kepada kopi adalah pamanku. Waktu dia sakit keras dan tidak boleh minum kopi, dia tetap bersikeras minum kopi. Dia memintaku membuatknnya kopi. Aku menolaknya, tapi dia justru malah marah-marah.

“Orang minum kopi mati! Tidak minum juga mati! Lebih baik minum kopi sampai mati!” katanya dengan mata melotot.

Apa boleh buat aku tak mau durhaka pada pamanku sendiri. Aku menyeduhkannya secangkir kopi hitam. Ketika paman sedang meminum kopinya dokter datang. Dokter langsung memarahinya tanpa ampun.

Pamanku yang tidak terima, mengguyur muka dokter itu dengan kopi panasnya. Dokter kepanasan dan berlari kebingungan. Ia menabrak lemari hingga jatuh dan tertimpa lemari.

Dua minggu kemudian dokter itu meninggal karena saraf lehernya kongslet tertimpa lemari. Meskipun pamanku lebih dahulu meninggal beberapa jam kemudian karena menyeruput kopinya. Hebat kerena kecintaannya pada kopi, pamanku rela membunuh orang. Tidak main-main bahkan seorang dokter sekaligus.

Setelah tidak bekerja di pemadam kebakaran kini aku menjadi seorang tukang ojek untuk menghidupi keluargaku, dan untuk seteguk kopi tentunya. Modal motor butut yang aku punya aku mulai menarik pelanggan.

Hari ini pelanggan pertamaku adalah seorang pemuda baliputa (bawah lima puluh tahun) yang baru pulang dari pasar. Saat itu aku juga baru menikmati kopi dingin dalam kaleng yang baru saja aku beli.

“Ojek mas!” katanya sambal menghampiriku.

“Oh! Iya pak. Silakan naik!” jawabku sambil memberinya helm. “Mau pergi ke mana pak?” tanyaku.

“Pulang mas, ini saya dari pasar. Jalan saja mas nanti tak tunjukin jalannya.”

“Oke siap pak.” Jawabku.

Sambil mengendarai motor sesekali aku meneguk kopi dinginku. Sekali, dua kali aku masih bias berkonsentrasi dengan jalanan. Namun setelah kesekian kalinya aku mulai bernostalgia dengan sekaleng kopiku.

“Mas depan itu masuk gang belok kiri” ujar bapak itu memperingatkanku. Namun aku terlalu terbawa suasana.

“Belok depan itu mas!” kata bapak itu dengan nada yang mulai tinggi.

Ketika hamper sampai di belokan yang ia maksud. “WOOY… GOBLOK!!! Belok kiri wooy!”

Serentak aku kaget dan membanting stir ke kiri. Tidak sengaja aku menabrak tiang listrik dan kami pun terjatuh. Lebih parahnya lagi bapak itu kecebur dalam got dan nggak bangun-bangun.

Aku pun tancap gas karena ketakutan. Jangan-jangan bapak itu mati ditepat.

Meskipun sudah ada kejadian itu aku tetap melakukan pekerjaanku seperti biasanya meskipun masih beberapa kali mengalami insiden dan dimarahi orang.

Dan kebiasaan keluargaku minum kopi masih berlanjut hingga kini dan sampai esok nanti. Hingga suatu saat ibuku membuka bungus kopi yang sudah habis.

“Waaaaaaa!!!!!”teriaknya dari dapur.

“Kenapa bu?” tanyaku sambal menghampirinya beramai-ramai dengan ayah “Ada kecoa ya bu?”

“Mobil…mobil…mobil…mobil,” serunya.

Ayah merebut bungkus kopi yang dibawa ibu dan langsung melihatnya. Ayah tak mengatakan apapun ia langsung naik ke kursi di sebelahnya, melepas bajunya, dan memutar-mutarnya seperti supporter sepak bola.

Aku langsung menyambar bungkus kopi yang dibawa ayah. “Woow…” ini pertama kalinya kami mendapat undian berhadiah. Dah hadiahnya tidak main-main yaitu mobil Pajero, Panas jobo jero (panas luar dalam) alias pick up.

Ternyata setelah beberapa kali mengalami hal konyol gara-gara kopi akhirnya kami mendapat keberuntungan. Sungguh suatu yang tak terduga dan istimewa yang mengakhiri cerita konyol dan aneh keluargaku.

Dan pada akhirnya, sekian dari Pawiro. Ku akhiri cerita perjalanan sehari-hariku. Bilamana dalam cerita ini terdapat cerita yang gaje (gak jelas) harap maklum karena yang bercerita juga kurang waras. Sekian terimakasih.