+6282244971122 mail@himatikauny.org

Alkisah seorang Bocah sedang duduk dibagku depan rumahnya dengan seorang tua. Usia Bocah itu sekitar 9 tahun, sedangkan Sang Kakek sudah terlihat sangat lanjut, namun badannya masih cukup tegak dengan sorot mata teduh. Sang Kakek sedang berkisah kepada Si Bocah. Dalam kisah tersebut, Ia bercerita dengan sangat piawai.

“Pada suatu zaman, dulu sekali, hampir semua orang berperilaku jahat, Le. Mereka tidak memikirkan moral, dan etika, bahkan hak asasi manusia, seolah kebaikan lenyap dari muka bumi. Zaman yang begitu mengerikan. Suatu hari pada zaman itu, lahirlah seorang bayi yang diramalkan kelak akan menjadi seorang pemusnah, pemusnah zaman yang sangat mengerikan itu.” Sang Bocah mendengarkan dengan seksama. Kemudian Kakek melanjutkan, “Benar saja, pada usianya yang menginjak dewasa, dia mulai memberi pengaruh pada zaman itu. Namun, karena ia dianggap merusak kesenangan, dia selalu dicelakai orang-orang. Sungguh kasihan. Namun orang-orang tidak tahu dia memiliki sebuah pusaka sakti dari langit, Cucuku.”

“Apakah pusaka itu, Kek?” Sang cucu akhirnya tidak sabar dan penasaran.

“Itu adalah pusaka paling sakti yang pernah ada, Le.” Sambil menyunggingkan senyum lebar yang tertutup kumis tebalnya, ”Pusaka yang mampu menggetarkan jagad ini sekalipun. Ia berpegang pada pusaka itu, kemudian diikuti banyak orang dan ia seolah menjadi raja yang maha dahsyat. Tidak ada seorang pun yang dapat menyaingi kepemimpinannya itu. Waktu pun berlalu, dan dia memiliki pusaka sakti yang dia buat sendiri guna melengkapi pusaka langitnya itu. Maka, jadilah zaman itu menjadi tenteram dan menyejukkan jiwa.”

Sang Bocah tersenyum sambil membayangkan betapa hebatnya dua pusaka sakti itu.

“Tapi… semua manusia pun memiliki batas, Le, tak terkecuali Sang Raja. Dia pun wafat dan akhirnya mewariskan kedua pusaka tersebut kepada semua orang, agar kedamaian dapat terjaga di Jagat Raya.”

“Apakah pusaka itu masih ada, Kek?” Tanya Bocah itu sambil melongo, tanda dia begitu penasaran.

Sang Kakek pun terkekeh, “tentu saja ada, Le. Kakek pun sebenarnya memilikinya.”

Dengan mata berbinar dan senyum mengembang, Bocah itu langsung bertanya lagi, “Dimana, Kek? Apakah aku bisa melihat dan memakainya?”

“Tentu saja sangat boleh, Le.” Sang Kakek mengajak cucunya itu masuk ke rumah, Lalu membuka laci kamarnya. Ditunjukkanlah isi laci tersebut kepada Si Bocah, “Ini dia pusaka sakti tanpa tanding itu, Le, hehehehe… Selama kamu berpegang pada keduanya, jangankan kampung ini, dunia pun dapat kamu genggam, Le. Bahkan jauh lebih dari itu, kamu bisa mendapatkan segalanya yang bakal membuatmu hidup kekal abadi dalam kenikmatan yang tiada tara.”

Rupanya Sang Bocah cukup cerdas sehingga mampu paham dan mengerti, bahwa untuk mendapatkan apa pun, segalanya, Ia harus menggantungkan harapan pada Sang Maha Segalanya. Sang Bocah akhirnya bertekad untuk mengikuti jejak Sang Baginda Raja yang tak lain adalah Rasulullah SAW yang berpegang teguh pada Al-Quran, dan Ia pun akan berjuang memahami pusaka kedua yang sejatinya adalah Al-Hadits.