087827505995 (Awan) / 085731640924 (Wikrama) himamatematika.uny@gmail.com

Sepotong Hati yang Tak Kunjung Pulang
Oleh : Falihah Kanzia

 

Bunga pukul empat mulai bermekaran. Matahari yang mulai lelah tersenyum kepada dunia, kini mulai kembali ke peraduan. Angin semilir menggores benda- benda di depannya, seolah pohon salak itu mulai lelah berdiri tegak menghadapi terpaan angin, layaknya diriku mulai lelah menghadapi masalah ini. Aku masih duduk termenung memandang langit jingga di atas genting, tampak terlihat pemandangan Gunung Merapi dari atas rumahku ini. Kucoba menenangkan sejenak perasaan dan pikiranku saat ini. Terdengar alunan bising yang membuyarkan pandanganku. Aku segera turun dan mematikan kompor itu. Lalu, aku beranjak pergi ke kamar untuk sejenak membuka dinding bercahaya yang kutinggalkan tadi. Rasa khawatir itu mulai muncul dibenakku kembali. Benar saja, pesan itu memunculkan rasa kecewa ketika aku membacanya, setelah kutancapkan modem pada perangkat tadi. Kata- katanya membuat air mataku menetes, dadaku terasa sesak sekali.

“Aku tidak mengerti harus berbuat apa. Aku takut salah. Aku tidak ingin membuatmu merasa sakit karenaku,”katanya dalam pesan itu.

“ikuti kata hatimu Ram, aku hanya ingin semuanya kembali normal lagi. Aku ingin bisa fokus belajar, Ram,” balasku kepada Rama sosok yang masih kunanti saat itu.

Aku tidak mengerti kenapa cinta yang kurasakan hanya membuatku sakit seperti ini. Sakit yang lebih sakit dari patah tulang, menusuk kalbu yang ingin merasakan cinta. Entah kata apa yang harus kulontarkan lagi kepadanya agar dia mengerti apa yang kuinginkan. Mungkin ini resiko yang harus kuterima ketika aku mulai membuka celah- celah pintu hatiku. Rapuh rasanya ketika kudengar kata- kata itu terlontar darinya. Kini, semilir angin dari jendela itu mulai mengubah suhu ruanganku. Rasanya, dingin itu membekukan perasaanku yang rapuh. Kulihat jam dinding itu menunjukan pukul 17.49, lalu segera kututup dinding bercahaya di depanku untuk sejenak sholat maghrib bersama keluarga.

Setelah selesai mengerjakan tugas rumah dan merapikan peralatan sekolah,  aku segera pergi ke tempat tidur. Sebenarnya aku belum merasa ngantuk , tetapi badan ini rasanya mulai lelah. Kupandangi dinding dihadapanku. Detak jam dinding membuatku terhanyut dengan caraku mengenal dia.

Aku mengenal Rama dari sahabatku, Dinta namanya. Awalnya aku dan Dinta hanya membahas topik tentang kebingungan Dinta yang memikirkan hubungannya dengan pasangannya. Tiba- tiba terlintas dibenakku, apa aku bisa mengenal seorang laki- laki yang bisa menjadi teman dekatku? Karena waktu itu, aku sama sekali tidak pernah berusaha untuk mengenal lelaki yang statusnya  lebih dari seorang teman. “Ta, punya pacar sepertinya enak ya? Selalu ada yang memperhatikan sepertinya,” ucapku seenak jidat.

“Pasti enak, apalagi kalau sedang malam minggu seperti ini.”

“Menjadi, jadi jomblo itu seburuk apa yang kamu pikirkan kok.”

Tawa kami pun pecah di tengah keramaian angkutan umum Yogyakarta- Borobudur yang kami tumpangi. Kami memang suka bercerita satu sama lain.

“Sebenarnya punya cowok itu pasti ada tidak enaknya. Kadang muncul masalah seperti yang aku alami saat ini,” jawabnya dengan penuh kemurungan.

“Benar juga sih, sebuah hubungan itu memang tidak ada yang mulus, yang pasti akan  ada sebuah kerikil yang mengganjal,” ala pakar cinta aku mejawabnya.

“Emangnya kamu pernah punya pacar?”

“Hahaha…,aku kan sering mendengarkan  cerita orang, jadinya tahu.”

“Makanya jangan jomblo terus, hahaha….  Mau tidak kalau aku kenalkan dengan temanku?” tawarnya.

“Siapa?” balasku.

“Teman, tetapi masih ada hubungan darah. Dulu aku pernah suka sama dia, tetapi karena dia sudah seperti kakak untuk diriku, ya sudah”.

“Namanya?”

“Rama.”

“Boleh, tetapi dia baikkan?”

“Tenang saja, kamu harus percaya denganku.”

“Hahaha… . Oke deh, aku tunggu kabarnya,” balasku.

Itu tawaran dari sahabatku, Dinta, yang membuatku terjerumus ke dalam masalah percintaan yang rumit ini. Rasa kantuk itu membuatku larut dalam suasana hening. Aku pun terlelap dalam iringan katak dan jangkrik.

Minggu pagi yang cerah menyambutku dengan kokok ayam tetangga. Burung- burung berkicau di dahan pohon. Permata bening yang menetes di dedaunan, dan ikan- ikan yang tidak mau kalah bermunculan ke permukaan kolam mencari udara. Aku segera menyelesaikan cucian yang mulai menumpuk. Kutuangkan sabun cuci itu kedalam ember. Lalu kualirkan air secukupnya. Selama cucian itu aku rendam, aku segera berlari ke kamar untuk membersihkan kamarku.

Setelah 30 menit, aku segera mencucinya dengan bersih. Lalu kujemur pakaian tadi diatas genting. Ditengah menjemur pakaian, tiba- tiba aku terigat awal pertemuan kami. Awalnya kami berkenalan lewat pesan singkat yang sangat tidak pernah aku  duga sebelumnya. Hingga kami bertemu disebuah tempat.  Masa itu adalah masa- masa paling manis dalam perkenalan kami. Bahkan Candi Borobudur pun menjadi saksi perkenalan kami. Perkenalan singkat yang membuat terpaku oleh rasa cintaku sendiri, hingga akhirnya terlontar kata- kata yang kutulis untuknya.

Seindah matahari menyinari bumi
Seperti halnya dirimu dihatiku
Awan nan elok menyapu luka hati
Menumbuhkan senyuman kembali di benakku

Mengapa cinta ini tumbuh seketika
Muncul pada hatiku saat mengenalmu
Entah mengapa ada getaran itu
Saat hati ini mulai lelah akan cinta

Kau buatku lupa akan sakitnya cinta
Cinta yang menusuk jiwa
Dan kau terangi hati
Dengan senyuman indah lagi

Rasanya ingin kuulangi masa- masa indah itu. Masa yang penuh sayang, penuh impian dan harapan.

Tetapi takdir tidak memihak kepada kami. Seperti yang pernah kubilang sebelumnya kepada Dinta, kejadian itu pun menimpaku. Aku menangis dalam rinai hujan, tidak tahu harus berbuat apa untuk menahannya. Bahkan awan pun ikut larut dalam kesedihanku. Sesak dada membuatku bernafas terseda- seda. Mulutku kini tidak mampu berkata- kata. Rasanya kaku tidak terkira. Dia harus pergi meninggalkanku dan menumbuhkan luka kembali. Apa salah jika aku tidak bisa merelakan dia pergi? Apa salah jika aku berego agar dia tetap berada di dekatku? Mana kuat hati ini ketika kau diterbangkan dalam layang- layang, tinggi, setinggi awan, tiba- tiba putus seketika. Bahkan itu lebih ironis lagi. Tidak ada kata yang mampu menggambarkannya.

Dia pergi meninggalkanku karena sekolahnya. Mungkin  seorang pemain basket yang begitu handal disekolahnya seperti dia, tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Akibatnya, nilainya menjadi turun. Aku akui, melepaskan sesuatu yang sangat kita sayang rasanya sakit sekali. Bagaimana kalau kamu harus berpisah dengan seorang yang kamu sayang, tanpa ada kata- kata terakhir darinya? Itulah yang kurasakan saat itu.

Sebenarnya, dia pernah bilang kepadaku bahwa, dia diperintahkan oleh ayahnya untuk pindah sekolah ke Jakarta, kembali ke kampung halamannya. Tapi dia tidak bilang kapan kejelasan waktunya akan pergi. Aku malah mendengar kabar dari Dinta bahwa dia sudah sampai di Jakarta. Lalu aku mengirimkan pesan singkat. “Apa benar kalau kamu sudah sampai di Jakarta?”

Dia menjawab, “Maaf aku tidak bilang dulu ke kamu. Ini mendadak, dan aku terpaksa harus pindah.”

Betapa terpukulnya batinku. Aku merasa bersalah karena tidak mengucapkan kata perpisahan untuknya. Terkadang sebuah kata kecil tanpa makna itu, bisa merubah pandangan akan sesuatu.

Awalnya hubungan kami baik- baik saja. Kami masih saling bertukar pikiran, bertanya satu sama lain tentang keadaan kami, bahkan mengirim berbagai kata romantis. Sungguh hanya dia yang mampu membuatku melayang. Aku tahu, dia memang seorang pria lembut, romantis sekaligus penyayang. Itulah yang membuat diriku jatuh hati kepadanya.

Lamunanku buyar kembali, ibu memanggilku untuk segera turun ke bawah. Kutinggalkan sejenak setumpuk baju yang belum kujemur tadi ditengah hamparan langit biru.

Setelah selesai menjemur baju yang kutinggalkan tadi. Kubuka lembaran- lembaran tugas sekolah. Secarik kertas jatuh. Lalu kuambil lagi kertas itu. Itu adalah salah satu kumpulan kata- kata untuknya. Kubaca kembali kata- kata itu.

Waktu berdetik begitu lama
Sampai aku masih tertahan disini
Menanti kehadiranmu

Aku tidak tahu
Entah mengapa aku masih sekuat ini
Aku tidak tahu
Kenapa senyumku masih mekar

Apakah mungkin karena rasa sayangku?
Ataukah karna kau selalu hadir dalam mimpiku?
Entahlah aku tak mengerti tentang rasa ini
Tentang pergimu, Senyummu, bahkan tentang sayangku

Tapi ada satu yang aku tahu
Aku tetap bertahan disini
Menantimu
Menanti seseorang yang special kembali di hidupku

Entah apa yang membuatku bertahan tanpa jalinan dengannya. Lama kelamaan komunikasi diantara kami semakin surut, bahkan seperti sudah tidak ada lagi. Hubungan ini  kurasakan semakin berat. Masih terbayang kata- kata terakhir yang aku terima darinya sewaktu dia masih berada di Jakarta.

“Kamu tidak belajar?”

“Udah kok, ini baru saja  selesai.”

“Eeh…, udah dulu ya. Aku disuruh ayah untuk belajar. Kapan- kapan dilanjutkan  lagi ya? Selamat menjalankan aktivitasmu J. Jangan lupa jaga kesehatan :* .“

Salahkah bila diriku ingin sebuah hubungan yang membuatku menjadi lebih baik lagi? Saling menyemangati satu sama lain? Membuat sebuah hubungan menjadi hubungan yang mengarah ke positif? Tapi yang kurasakan ketika itu adalah kesedihan, bahkan prestasiku menjadi turun. Mungkin karena kepergiannya tanpa kabar yang pasti.

Setelah aku membacanya, kuselipkan lagi kata- kata itu ke dalam buku. Akan kubuka lagi suatu saat nanti.

Menunggu adalah proses yang paling dibenci oleh kebanyakan orang. Seperti tidak ada tujuan. Bahkan terkadang orang lebih memilih menghentikan daripada harus menunggu. Aku masih saja berharap dia akan kembali. Sampai tertulis sebuah kata- kata lagi.

Sampai saat ini
Ku tidak pernah mengerti
Bagaimana keadaanmu dan bagaimana tentangmu
Apakah aku terlalu bodoh?
Bodoh menanti sesuatu yang tidak pasti
Sampai kapankah,
Aku harus bersabar menanti dirimu
Apakah ini semua pertanda untukku
Bahwa kau bukanlah  milikku
Kini aku hanya dapat berharap
Semoga kelak kau akan kembali

Perlahan- lahan hati ini merasa lelah, lelah 3 tahun untuk menunggu. Sejak kepergiaannya itu, aku masih  sayang. Mungkin banyak orang yang bilang, bahwa aku adalah orang yang mudah jatuh cinta. Aku akui bahwa pernyataan itu benar. Tapi ada satu hal yang mereka tidak tahu. Bagi diriku sendiri, melupakan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup itu sangatlah susah. Aku terus berusaha memendam perasaan itu, jauh  ke dasar hati terdalamku, agar dapat kukenang dalam kehidupanku. Memang tidak mudah bagiku melupakannya. Perlahan tapi pasti, aku mulai melupakan sedikit bagian kecil darinya. Terkadang aku berfikir, kenapa orang bisa datang dan pergi semaunya. Apakah mereka tidak mengerti akibatnya bagi orang lain? Hatiku yang mulai merekah, tiba- tiba kini kembali terluka. Luka karena hal kecil yang kini tak kuharapkan lagi.

Terdengar suara kecil dari dapur, pyaaarrrr…. Suara itu mengejutkanku. Apa ini ada hubungannya dengan lamunanku barusan? Aku segera berlari ke dapur. Kulihat sebuah piring remuk di atas lantai. Kuambil puing- puing piring itu, lalu segera aku sapu agar tidak ada yang terluka karena sisa- sisa tajamnya.

Hari semakin sore, aku mencoba membuka dinding bercahaya itu lagi. Terlintas sebuah pesan masuk di akun jejaring sosialku. Sempat kudengar dari Dinta bahwa dia telah kembali. Setelah mendengar berita itu, aku mengirimkan sepotong pesan untuknya. Kubaca pesan tadi, ternyata pesan tersebut adalah pesan balasan dari Rama. Dia bilang bahwa dia, telah kembali ke sini, ke kota kecilnya, Muntilan.

Rasa yang telah kupendam dengan susah payah, kini muncul kembali, bercampur dengan goresan luka di hati dan amarahku. Aku tidak pernah mengerti dengan jalan pikirannya. Apa semua laki- laki di dunia ini hanya menggunakan logika daripada perasaan? Bahkan kini hati dan perasaanku beradu tidak sejalan lagi. Apakah yang harus aku lakukan, menerima atau justru menolaknya untuk kembali ke dalam hidupku lagi?

Tidak kuasa hatiku menahan  muncul kembalinya dia ke hidupku. Aku mulai menerimanya kembali. Awalnya komunikasi masih berjalan dengan baik. Lama- kelamaan komunikasi semakin tidak jelas. Bahkan komunikasi paling cepat dalam satu minggu, itu pun  cuma satu arah. Tidakkah dia mengerti, batin ini selalu berteriak karenanya. Merintih kesakitan, bertahan dengan semua beban.

Konflik demi konflik mulai bermunculan, ego kami tidak bisa diredakan. Bahkan kulontarkan berulangkali pertanyaan sekaligus peryataan untuknya. Apakah dia mengerti yang kulakukan hanyalah meminta kejelasan darinya? Kejelasan tentang status hubungan. Kepastian yang tidak pernah dia berikan. Yang membuatku semakin terluka. Terdengar dengan jelas azan maghrib dari rumahku. Kulihat ayam- ayam itu mulai kembali ke sangkarnya. Terdengar suara jangkrik yang sama kembali. Kupandangi langit dihadapanku, terlihat jelas bulan sabit itu. Gemecik air dari rumah tetangga pun mulai terdengar. Mungkin mereka tengah mandi ataupun berwudhu.

Rama sempat bertanya kepadaku. “Apa kamu marah kepadaku?”

“Marah untuk apa? Aku tidak pernah berniat marah sama kamu. Aku cuma kecewa saja. Aku tahu, aku tidak bisa menyalahkan siapa- siapa tentang semua ini. Bahkan mungkin aku yang salah.”

“Kamu tidak boleh bicara seperti itu.”

“Aku itu udah benar- benar lelah.”

“Maafkan aku. Aku tidak mau membuatmu menjadi terbebani.”

Setelah kata- kata itu. Waktu terasa berjalan semakin cepat. Tidak pernah lagi  kudengar kabar darinya. Bahkan status hubungan kami tidak pernah jelas. Rasanya jejaring sosial itu tidak pernah berarti lagi. Hingga akhirnya kukirimkan sebuah pesan.

“Aku semakin ragu dan takut Ram. Kau menimbulkan konflik batin dihati. Apa salah jika aku mulai lelah, mulai jenuh, dan mulai ragu? Mungkin ketika kamu membaca pesan ini aku mulai berusaha melupakan kisah kita kembali, kisah yang tidak pernah kumengerti arahnya akan kemana. Mungkin aku telah lelah beranggapan harapan itu akan terwujud . Luka kecil dihatiku ini, mulai menggores panjang. Membuatku lelah untuk mengenal lelaki kembali.”

Kutulis dengan penuh pengharapan sekaligus kekecewaan. Sebenarnya aku masih berharap dia akan kembali, walau rasanya tidak mungkin lagi. Akan kubiarkan luka ini menjadi kenangan tersendiri. Sejak saat itu. Aku selalu berharap ada pesan masuk dalam akun jejaring sosialku dan memunculkan sebuah kejelasan lagi bahwa, sepotong hatiku telah kembali.

Kapan lagi kutulis untukmu, tulisan- tulisan indahku yang dulu. Warna- warnai dunia. Puisi terindahku hanya untukmu. Mungkinkah kau kan kembali lagi menemaniku menulis lagi. Kita arungi bersama, puisi terindahku hanya untukmu.(jikustik- puisi).