Lebih dari Sekadar Kompetisi, Widha Maknai Pilmapres sebagai Ruang Bertumbuh

Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta merupakan ajang seleksi tahunan untuk menjaring mahasiswa unggul yang berprestasi di bidang akademik, organisasi, dan memiliki karya ilmiah inovatif. Ajang ini tidak hanya menilai prestasi akademik mahasiswa, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menyusun gagasan, serta menyampaikan ide secara efektif.

 

Mahasiswi Statistika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, Widha Zhariin Muslimah berhasil menyabet gelar Peringkat 1 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat fakultas. Baginya, pengalaman mengikuti Pilmapres meninggalkan kesan yang lebih dalam dari sekadar predikat juara.

 

Widha mengawali ceritanya dengan cukup terus terang. Awalnya ia hanya iseng ingin mencoba hal baru. Selama ini ia lebih banyak berkutat di akademik dan kompetisi, dan Pilmapres terlihat seperti tantangan yang berbeda.

 

“Pengen keluar dari zona nyaman,” ujarnya singkat, Selasa (12/3).

Bagi Widha, proses Pilmapres bukan hanya tentang kompetisinya, tapi lebih ke proses belajar menyusun gagasan kreatif, berpikir kritis, dan menyampaikan ide secara lebih terstruktur. Motivasi terbesarnya waktu itu lebih ke keinginan untuk memaksimalkan kesempatan yang ada. Karena menurutnya, masa kuliah adalah salah satu fase untuk mencoba banyak hal dan menantang diri sendiri.

 

Namun, keluar dari zona nyaman tidak semudah membalikkan telapak tangan. Widha mengaku harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari, mulai dari menyusun gagasan kreatif yang selaras dengan isu-isu terkini sampai  harus latihan presentasi berkali-kali.

 

“Apalagi tahapannya banyak. Ada presentasi, wawancara kepribadian, wawancara bahasa Inggris. Masing-masing tantangannya beda,” kenangnya.

 

Salah satu momen yang membekas di ingatannya adalah saat sesi presentasi. Bukan karena deg-degannya, tapi karena di situlah ia merasa gagasannya benar-benar diuji. Para dosen banyak memberi masukan dan sudut pandang baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

 

“Jadi rasanya bukan sekadar kompetisi, tapi benar-benar belajar,” katanya.

 

Menariknya, Widha mengaku tidak terlalu memikirkan soal juara. Fokusnya justru ke proses menyusun ide yang aplikatif dan inovatif. Baginya, Pilmapres menjadi ruang untuk menguji diri secara menyeluruh, bukan cuma nilai akademik, tapi juga cara berpikir kritis dan kemampuan komunikasi. Manfaat terbesar yang ia rasakan setelah mengikuti ajang ini adalah cara pandangnya dalam melihat suatu masalah jadi lebih mendalam, tidak hanya dari satu sisi, tapi juga mempertimbangkan data, dampak, dan bagaimana solusi itu bisa benar-benar diterapkan.

 

Untuk mahasiswa yang tertarik ikut Pilmapres ke depannya, Widha punya pesan sederhana: jangan takut mencoba dulu. “Banyak baca referensi, terbuka sama masukan dosen atau teman, dan yang paling penting nikmati prosesnya,” pesannya.

 

Saat ini Widha baru sampai di tingkat fakultas dan berhasil meraih Peringkat 1 Pilmapres FMIPA UNY 2026. Masih ada tahapan seleksi di tingkat universitas yang perlu dipersiapkan. Ia optimis meski masih banyak yang perlu dipersiapkan. “Semoga dari proses ini aku bisa terus belajar dan memperbaiki diri. Dan semoga pengalaman ini juga bawa hal baik buat prodi dan fakultas,” pungkasnya. Prestasi ini disebut sebagai hasil dedikasi, kerja keras, serta komitmen dalam mengembangkan potensi akademik maupun non akademik.