GUNUNGKIDUL- Bagi banyak anak-anak, matematika sering kali dianggap sebagai “hantu” yang menakutkan di sekolah. Namun, persepsi itu perlahan luruh di tangan mahasiswa Departemen Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Melalui program Desa Binaan (Desbin) #1, mereka menyulap angka-angka menjadi permainan yang mengundang tawa di Padukuhan Mojosari, Kelurahan Playen, Gunungkidul.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tiga agenda pada 14 Maret, 5 April, dan 12 April 2026 ini bukan sekedar agenda rutin organisasi. Program kerja ini adalah wujud nyata dari salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai sebuah jembatan bagi mahasiswa untuk turun langsung dan memberikan dampak bagi masyarakat melalui pengabdian.
Melalui kegiatan ini matematika menjadi lebih menyenangkan. Di bawah arahan Adin Happy Aulia Salma selaku Ketua Pelaksana dan kawan-kawan panitia Desbin #1 mengusung pendekatan yang hangat dan akrab. Anak-anak dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan jenjang usia, mulai dari TK hingga kelas 6 SD. Materi dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian disampaikan menggunakan alat hitung interaktif yang bisa dioperasikan langsung oleh tangan-tangan kecil mereka.
Tak berhenti di situ, konsep fun math pun dihadirkan. Belajar terasa seperti bermain, apalagi ditambah kegiatan kreatif membuat kerajinan pom-pom untuk dijadikan gantungan kunci sebagai kenang-kenangan.
“Tujuan kami ingin membantu mengembangkan potensi desa dan meningkatkan kepedulian mahasiswa. Kami ingin anak-anak melihat bahwa matematika itu seru,“ ungkap Adin mewakili rekan-rekan panitianya.
Perjalanan Adin dan tim di Mojosari bukannya tanpa kendala. Pada agenda ketiga, panitia sempat kesulitan menghubungi salah satu ketua RT untuk menyebarkan undangan. Namun, semangat gotong royong warga desa menjadi penyelamat. Dengan bantuan Dukuh setempat, komunikasi pun kembali lancar dan acara tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Masalah lain muncul saat jumlah peserta sempat menurun karena adanya agenda dusun yang bersamaan. Meski begitu, para mahasiswa tetap optimis dan memastikan setiap anak hadir mendapatkan perhatian penuh untuk tetap belajar dengan nyaman.
Dampak dari program ini tampak dari peningkatan minat. Sebelum program ini masuk, sebagian besar anak-anak mengaku enggan berurusan dengan angka. Namun, setelah tiga kali pertemuan, minat belajar mereka tumbuh. Mereka yang tadinya ragu, kini mulai percaya diri menyelesaikan soal-soal matematika.
Ruang bertumbuh bagi mahasiswa dan desa bagi Adin Happy Aulia Salma dan seluruh panitia, momen paling berkesan bukanlah saat materi selesai disampaikan, melainkan saat melihat senyum dan tawa anak-anak yang mulai paham apa yang mereka pelajari. “Melihat mereka tersenyum dan bisa mengerjakan soal itu rasanya sangat menyentuh,” kenangnya.
Meskipun program ini berakhir di agenda ketiga, evaluasi ketat tetap dilakukan melalui forum panitia. Setiap kendala dijahit menjadi pembelajaran berharga agar program selanjutnya bisa lebih sempurna.
Harapannya sederhana, tetapi begitu tulus. Desa Binaan #1 ini bisa terus berlanjut di periode-periode berikutnya. Bukan hanya sebagai ajang berbagi ilmu matematika, tapi sebagai ruang silaturahmi yang berkelanjutan antara kampus dan desa, serta menanam benih harapan bagi masa depan pendidikan.
